DOS.id - Dakwah Open Source Indonesia

Media provokasi penggunaan FLOSS (Free/Libre Open Source Software)

Friday, April 28, 2006

Applause Meriah di Yale University Bagi Para Pejuang Frekuensi Indonesia

Diposting oleh : Onno W. Purbo
Dikutip dari Infolinux.web.id

Di hari minggu pagi 23 April 2006, saya memperoleh bagian untuk berbicara di planery session conference Access to Knowledge yang di selenggarakan oleh Yale Law School di Yale University Amerika Serikat. Konference ini fokus pada hal-hal yang berkaitan dengan berbagai isu yang berkaitan dengan akses kepada pengetahuan bagi bangsa-bangsa di dunia yang di hadiri oleh peserta lebih dari 40 negara di dunia.

Sebetulnya topik yang di ajukan kepada saya adalah limitasi bagi access to knowledge, yang sebetulnya cukup sederhana di Indonesia, seperti, bahasa inggris, mahalnya infrastruktur, rakyat yang tidak kaya, dan peraturan yang terlalu ketat di tambah korupsi.

Tentu tidak akan menarik jika hanya membicarakan keterbatasan, oleh karena itu saya mengubah sedikit topik saya menjadi lebih fokus pada pengalaman mengatasi keterbatasan tersebut yang tentunya berbasis pada pengalaman di lapangan selama 12+ tahun perjuangan bahu membahu dengan bangsa Indonesia untuk memperoleh akses Internet yang murah, sambil mencuri frekuensi di 2.4GHz, 5.8GHz, melakukan VoIP dll. Perjuangan panjang yang memakan waktu lama, mengedukasi bangsa, mengajak anak-anak muda di Indonesia menulis buku, share knowledge, membangun berbagai komunitas di mailing list. Gilanya, semua harus di lakukan secara swadaya masyarakat tanpa utangan Bank Dunia, IMF dan tanpa dukungan pemerintah bahkan di bawah sergapan polisi. Tapi semua akhirnya membuahkan hasil dengan bebasnya frekuensi 2.4GHz di Indonesia sejak bulan January 2005 yang lalu.

Penyebaran pengetahuan menjadi kunci dalam proses perjuangan sayangnya sebagian besar pengetahuan yang ada dalam bahasa inggris. Seni mengkonversikan pengetahuan berbahasa Inggris menjadi buku-buku dan artikel dalam bahasa Indonesia secara swadaya masyarakat dengan cara mengajak anak-anak mudah Indonesia menjadi penulis buku IT ternyata sangat unik tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh banyak negara di dunia.

Pendekatan rebelius untuk mengatasi limitasi akses ke pengetahuan tidak pernah terpikirkan oleh para peneliti, birokat, pakar yang sangat berbudaya yang hadir di konferensi tersebut.

Yang amat sangat mengagetkan dan tidak pernah saya rasakan sebelumnya selama umur hidup saya memberikan ceramah di berbagai tempat di dunia,keynote speech saya yang cukup rebelious mendapat sambutan yang amat sangat luar biasa. Tidak ada pembicara lain yang memperoleh sambutan sedemikian tinggi di Access to Knowledge Conference di Yale University.

Jian Yan Wang, dari Orbicom di Montreal Canada ternyata cukup iseng, katanya peserta sampai sekitar tiga (3) menit tidak berhenti bertepuk tangan untuk saya. Alhamdullillah, perjuangan yang selama ini dilakukan oleh bangsa Indonesia untuk membangun sendiri & swadaya masyarakat Internet murah dengan cara-cara tidak legal mendapat sambutan yang amat sangat luar biasa di forum yang sangat prestigius di Yale University di Amerika Serikat.

Setelah saya turun dari podium amat sangat banyak sekali Professor dari banyak kampus di Amerika, Afrika, Eropa menyalami saya dan mengatakan "Yours is very inspirasional". Sampai-sampai beberapa rekan seperti Sarah Kerr dari BellaNet Canada menyebutnya sebagai ceramah terbaik di Conference Access to Knowledge di Yale Law School.

Yah, bagi mereka yang lebih banyak bergelut dengan teori, berargumentasi di kampus, tidak pernah terjun kelapangan memang akan tidak pernah terfikir berbagai trik, akal-akalan, dan kenikmatan yang akan di peroleh jika kita dapat secara nyata membangun masyarakat tanpa utangan Bank Dunia, IMF maupun bantuan pemerintah.

Akibatnya, saya langsung mendapatkan banyak tawaran untuk berangkat lagi ke berbagai negara untuk memberikan ceramah inspirasi ke Jerman (Berlin), Ghana, Belanda dll. rata-rata akan di adakan sekitar bulan Juni-September 2006 ini.

Beberapa yang mengundang saya antara lain adalah,
- Director General, Ghana-India Kofi Annan Centre of Excellence in ICT di Ghana
- International Institute for Communication and Development. Merupakan network NGO yang membangun wireless network dimana-mana.
- iRights (Urheberrechti In Der Digital Welt) dari Berlin
- BellaNet, terutama untuk berpartisipasi di event mereka di Asia Common yang akan melibatkan banyak rekan-rekan dari Asia.


Akhirnya, saya ingin mengucapkan banyak terima kasih atas segala bantuan dan do'a yang diberikan rekan-rekan pejuang Internet di Indonesia selama ini.

Saya pribadi semakin yakin bahwa bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang bodoh, apa yang kita bangun bersama oleh para pejuang IT Indonesia ternyata membuahkan contoh nyata yang luar biasa bagi banyak bangsa lain di dunia. Tidak ada bangsa yang di dunia yang mampu membangun Internet murah seperti Indonesia. Mereka banyak ingin mencontoh apa yang kita lakukan di Indonesia.

Semoga para birokrat, politikus dan mereka yang menamakan dirinya pemimpin bangsa ini menyadari kemampuan anak bangsa. Walaupun kenyataannya kiprah anak bangsa tidak tergantung sama sekali pada para birokrat maupun politikus.

Onno @ Yale University
23 April 2006

Saturday, January 07, 2006

wallpaper pualing keren sedunia......






he.. he... keren yah..... wallpaperku... [daripada ndak ada yang muji kan mending di puji dewe wae... kekekekekkekek...........]

Lazarus untuk para developer Delphi di Linux


Bagi para pengembang software yang terbiasa menggunakan Delphi maupun Kylix dapat mencoba Lazarus sebagai alternatif lingkungan pengembangan. Lazarus merupakan pengembangan lanjutan dari kompiler pascal, freepascal yang secara gratis dapat diperoleh di http://lazarus.freepascal.org. Tampilan IDE Lazarus tidak beda jauh dengan tampilan IDE Borland Delphi. Sedang untuk instalasi, Lazarus menyediakan 3 paket RPM yang sangat mudah untuk diinstalasi. Hanya saja komponen yang tersedia di Lazarus lebih sedikit jumlahnya dibandingkan Delphi.


Thursday, December 29, 2005

mutar musik di tempat umum, bayar!!!!!

Awal minggu ini saya mendapat berita bahwa sedang diadakan sweeping oleh KCI dan Polisi. Obyek sweeping adalah pemutaran music di muka umum. Denda yang mereka kenakan ada pada kisaran 5-10 jt.

Pagi ini saya iseng-iseng melihat situs mereka yang ditulis dengan bahasa Inggris (padahal kan namanya Karya Cipta Indonesia), dan ini yang saya temukan

Who are the MUSIC USERS ?
The music users are those who possesed KCI's Licence which authorizes the public performance of any and all of the works within KCI's repertoire in the circumstances and by certain methods.
Music users such as broadcasters (Televisions, Radio stations), venues ( Hotels, Discotheques, Bars/pubs, Cafes, Restaurants, Karaokes, Bioscopes, etc.) and businesses (Malls, Offices, Airplanes etc.) must pay for their use of copyright music by way of a blanket licence fee. KCI collects these monies and distributes them to the copyright owners involved. The monies earned by copyright owners in this way are known as public performance royalties
In addition to it being a legal requirement to take out an KCI's licence if you are using music in public situations, it also makes good business sense to have an KCI licence. By taking out an KCI licence you are obtaining a blanket licence to use millions of musical works to improve that way in which your business operates. You are also fulfilling your legal and moral obligations with regard to using songwriters, composers and music publishers property. By paying your annual royalty to KCI you enable songwriters to continue to write the music that is to the benefit of everyone

Aturan ini mulai berlaku kamis tgl 22 Desember.

Mas nuki tolong kasih judicial review donk :-)

Tuesday, December 20, 2005

Visual Basic di Linux dengan Gambas


Bagi rekan-rekan yang terbiasa menggunakan Visual Basic dari Microsoft tentunya dapat "sedikit" bernapas lega, pasalnya Benoit Minisini mengembangkan sebuah IDE yang menggunakan syntaks mirip VB (tetapi bukan kloning) dan menyebarkan IDE-nya "gratis". Saya mencoba menginstal Gambas pada Ubuntu 5.10 menggunakan Synaptic Package Manager. Untuk menjalankan Gambas, saya menggunakan Terminal dengan perintah /usr/bin/gambas. Tampilan IDE nya memang mirip dengan Visual Basic, jadi ngga butuh waktu lama untuk beradaptasi dengan antarmuka IDE. Saya coba membuat program sederhana untuk menghitung luas segitiga. Kodenya seperti ini :

PUBLIC SUB Button1_Click()
QUIT
END



PUBLIC SUB Button2_Click()


'Mengosongkan nilai
TextBox1
TextBox1.clear()

'Mengosongkan nilai TextBox2

TextBox2.clear()

'Mengosongkan nilai TextBox3
TextBox3.clear()


'Mengaktifkan kursor dalam TextBox1

TextBox1.SetFocus


END
PUBLIC SUB Button3_Click()

'Deklarasi x sebagai integer

x AS Integer


'Menghitung luas segitiga
x = 0.5 * CInt(TextBox1.Text) * CInt(TextBox2.Text)
TextBox3.Text = CStr(x)


END


Persis seperti yang digunakan dalam VB. Ketika di compile tidak ada kendala yang berarti. Setelah Borland Kylix (mirip Delphi), Gambas menjadi bahasa pemrograman yang paling mudah untuk membangun aplikasi berbasis GUI. Banyak fasilitas yang ditawarkan Gambas, untuk membangun aplikasi database misalnya, Gambas menyediakan SQLite yang merupakan embedded database yang siap pakai, belum lagi konektivitas dengan MySQL dan PostgreSQL. So... cobain gih....


Sunday, December 18, 2005

Menginstall VMWare di Ubuntu 5.10 Breezy Badger

ini oleh-oleh ketika aq surf ke blog tetangga...

semoga bermanfaat...


Mungkin memang menyulitkan bagi kita para pemula yang bener-bener belum bisa bermigrasi sepenuhnya ke Linux. Tapi mudah-mudahan dengan adanya uBuntu kita semua jadi terbantu untuk semua aplikasi yang open.

Berikut saya coba memberikan guide bagi para pemula agar dapat menggunakan Windows atau OS lainnya di dalam UBuntu 5.10 atau bisa dicoba ke versi sebelumnya. Aplikasi yang digunakan memang tidak gratis alias bayar, nama Aplikasinya Virtual Machine. Dengan aplikasi ini seolah-olah ada komputer didalam komputer kita.

Virtual Machine ini sangat diperlukan jika kita membutuhkan aplikasi windows yang memang tidak bisa jalan normal di distro linux, atau jika kita sebagai developer yang memerlukan banyak OS untuk menguji coba aplikasi yang dibuat.

Jika kita menggunakan Mandriva, Fedora Core atau Suse mungkin sangat mudah menginstall VMWare, cukup dengan mendownload paket RPM dan tinggal menjalankan maka VMWare otomatis terinstall dan langsung dapat digunakan. Hanya saja untuk Ubuntu maupun Debian, tidak ada paket .Deb untuk VMware, tetapi jangan takut karena Ada paket lain yang bisa kita gunakan. Mudah-mudahan dengan mengikuti prosedur-prosedur berikut dapat membantu kita semua.

Berikut tahapan satu persatu hingga selesai :
1. Install paket Build Essential dengan mengggukan synaptic atau perintah berikut :
#apt-get install build-essential

2. Berikutnya install paket kernel header :
#apt-get install linux-headers-’versi kernel yang anda gunakan’
contoh : #apt-get install linux-headers-2.6.12-10-386

3. Ubuntu 5.10 secara default akan menginstall paket gcc 4.0, sedangkan Ubuntu di compile dengan menggunakan gcc versi 3.4.5, oleh karena itu kita harus menginstall paket gcc-3.4 dengan menggunakan perintah :
#apt-get install gcc-3.4

4. Kemudian install paket g++-3.4 dengan menggunakan perintah :
#apt-get install g++-3.4

5. Agar pada tahap installasi yang digunakan adalah gcc-3.4 maka perlu menambahkan perintah ;
#export CC=/usr/bin/gcc-3.4

5. Jika ke-4 langkah diatas sudah berhasil dilakukan maka berikutnya adalah download paket installasi VmWare yang berupa file tar.gz (source) di official websitenya (http://www.vmware.com). Jika sudah selesai lakukan perintah berikut :

#tar xvzf VMware-workstation-5.0.0-13124.tar.gz
#cd vmware-distrib
#./vmware-install.pl

ikuti langkah-langkahnya secara default dan ikuti sampai selesai, dan jika muncul pesan untuk menjalankan (vmware-config.pl), maka anda pilih no. Kemudian anda download patch yang dibuat khusus utk Vmware pada website (http://platan.vc.cvut.cz/ftp/pub/vmware/vmware-any-any-update96.tar.gz). Download file tersebut kemudian ekstrak dan jalankan melalui command perintah berikut :
#./runme.pl

Maka akan secara otomatis akan melanjutkan konfigurasi VmWare yang telah terinstall, dan proses installasi VMware telah selesai dilakukan. Untuk menjalankannya dengan menggunakan command :
#vmware

Atau dapat melalui menu Application –> System Tools –> VMware Wokrstation

Based from http://wiki.ubuntu.com
Selamat bereksperimen,

Regards,

Mico Kelana Perdana
————————————
http://www.micokelana.com

Friday, December 16, 2005

Software Replacement

Aplikasi apa yang sering kita gunakan di Windows?
Ada atau tidak aplikasi tersebut di Linux?

Kedua pertanyaan tersebut paling sering muncul di benak pengguna yang hendak migrasi dari Windows ke Linux, mereka kadang berpikir lagi apakah ada aplikasi "ini" di Linux, kalau ada apakah mirip seperti di Windows?

Jawabannya adalah:
Sebagian besar di Linux sudah ada aplikasi sejenis dengan yang ada di Windows, ini beberapa diantarnya(list ini dibuat untuk pemakai Ubuntu, jadi kalo mau menambahkan silakan..):

Office
  • OpenOffice, paket ini sudah cukup bagi pemakai kebanyakan untuk ngetik, itung-itungan, buat tabel.
  • DIA, untuk membuat diagram seperti di Visio
Mail Client
  • Thunderbird, ringan setara dengan Outlook Express (IMO)
  • Evolution, ini lebih lengkap (ada task management, scheduling, contact) mirip dengan Microsoft outlook
Grafis dan Desktop Publishing
  • GIMP, untuk menggambar bitmap serupa dengan Photoshop
  • Inkscape,untuk menggambar vektor dan membuat ilustrasi sperti halnya Corel dan Adobe Illustrator
  • Scribus, untuk desktop publishing fiturnya lengkap
  • gThumb Image Viewer, image viewer seperti ACDSee, namun fiturnya untuk saat ini memang belum begitu lengkap
Audio & Video Player
  • Amarok, player yang satu ini memiliki fasilitas yang sangat lengkap dan dapat digunakan sebagai audio catalog
  • XMMS, player yang kecil dan ringan dengan interface seperti Winamp serta dapat ditambahkan fungsi-fungsi baru melalui plugin
  • XINE & Totem, buat nonton VCD, DVD dan file-file movie yang lain, kemampuannya untuk membuka file movie tergantung dari codec yang kita install.
Internet
  • Firefox, browser dengan segudang fitur yang dapat ditambahkan melalui extension.
  • d4x, download manager semacam flashget
  • liferea, feed reader untuk
Kayaknya itu dulu aja kalo ada tambahan silakan tambah aja, aplikasi diatas merupakan aplikasi yang sering digunakan kebanyakan orang, khusus untuk aplikasi yang lebih spesifik dapat dicari melalui internet, ini beberapa link untuk aplikasi di Linux:
Bagaimana menginstallnya...???
Bisa dilihat artikel ritual menginstallnya, dan jangan lupa usahakan cari dahulu di repositorty
sudo apt-cache search "nama_package"
contoh: sudo apt-cache search firefox

Thursday, December 15, 2005

open source dan bajakan edition

tahukah anda ada berapa orang bule atau orang india yang berada di indonesia dan hidup sebagai konsultan dengan gaji yang benar-benar tinggi ? Saat ini saja kita masih perlu mengimpor orang pintar ke negri ini, baik sebagai konsultan yang berhubungan dengan software microsoft maupun unix.

Fanatisme buta akan membuat kita kehilangan kemampuan untuk maju. Mari kita memberantas pembajak ketika bangsa ini sudah setara dengan bangsa lain dan kita mampu meng-ekspor para ahli IT dan bukan hanya meng-ekspor para TKI/TKW yang di perkosa dimana-mana dan di hina seperti sampah.

Fanatisme buta terhadap linux akan membuat kita kehilangan tenaga kerja yang dibutuhkan dimana-mana dan akhirnya kita harus selalu mengimpor orang2 dari luar negri. Kalau begitu beli saja software legal untuk belajar ? lalu pertanyaannya adalah mampukah para mahasiswa biasa atau orang-orang seperti saya bisa membeli software yang totalnya bisa mencapai jutaan rupiah ?
pakai saja linux kata anda ?
trus bagaimana dengan perusahaan yang sudah terlanjur memakai software bajakan? maukah mereka mengatakan "Halo semuanya. Kita hentikan penjualan sementara waktu dan belajar linux. Kita hanya akan menerima karyawan linux" Jika pelaku usaha mau berbuat
seperti itu siapa yang akan menanggung kerugian mereka selama jeda??

Saya memang tidak perduli dengan kata pembajak software atau pembajak teknologi lainnya. Bagi saya, ilmu pengetahuan adalah milik semua orang yang harus dikuasai untuk memperbaiki kualitas hidup. Bicara tentang HAKI ketika sudah waktunya saja. Membajak memang tidak benar, tapi saat ini masih belum waktunya untuk membicarakan hal ini.
Saya juga pembajak, tetapi saya tidak menemukan pengetahuan dengan menggunakan software bajakan tersebut, kecuali anda menyebut tahu cara menggunakan sebuah software adalah sebuah pengetahuan (sesuatu yang sangat lucu menurut saya karena hal
tersebut adalah kemampuan menurut saya, bukan pengetahuan). Mengutip Eric S. Raymond, seseorang yang tahu cara memasang kabel baterai aki pada mobil tidak menjadikan orang tersebut seorang mekanik otomotif. Justru saya menemukan pengetahuan di tempat lain,
dimana semuanya tersedia dengan sangat murah dan bahkan gratis.

Terakhir,
saya memang orang yang tidak bermoral dari negara miskin tapi saya menyadari akan hal itu :)

==>ambil ide dari milis jasakom ;p<==


buat pak admin tolong di kategorikan dunk postingannya:)

Bom Waktu itu Telah Meledak

Tulisan Oom Wiryana (I Made Wiryana) di Majalah InfoLINUX dua bulan yang lalu mengilhami saya untuk menuliskannya kembali (dengan berbagai tambahan) dalam blog ini. Oom Wiryana mengungkapkan bahwa dibiarkannya pembajakan atau penggunaan sofware bajakan di lingkungan sekitar kita merupakan “bom waktu” yang sangat berbahaya. Di satu sisi kita begitu dimanja dengan banyaknya pilihan software yang mudah digunakan dan powerfull, yang begitu mudah pula CD installer-nya kita dapatkan di Jalan Kaliurang :). Tetapi dilain pihak ancaman bom waktu itu mengancam kita dimasa yang akan datang.


Dengan sangat menyesal, akhirnya bom waktu itu kini telah meledak. Ketika digulirkan Undang-Undang HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) Tahun 2003 banyak warnet dan perusahaan kena imbasnya, terjadi sweeping dimana-mana, serta banyak pihak yang berhasil diseret ke pengadilan untuk kasus pembajakan ini. Kini nasi telah menjadi bubur, tidak ada satupun pahlawan dari negara ini yang mampu mencegah meledaknya bom waktu.

Ketergantungan terhadap sofware-software bajakan tersebut belum sempat ditanggulangi, dan bom waktu telah keburu meledak. Ketika penggunaan software bajakan di perguruan tinggi dibiarkan, nampaknya hal itu merupakan setting khusus dari vendor software komersial, yang menggunakan strategi “Network Effects” untuk menciptakan ketergantungan, karena perguruan tinggi dianggap sebagai sumber penyebaran tren penggunaan aplikasi di masyarakat. Banyak dari staff pengajar yang belum memberikan pengertian kepada mahasiswa, bahwa penggunaan software bajakan itu melanggar hukum. Mahasiswa hanya dididik tentang ketrampilan saja, tetapi tidak diajarkan tentang “Etika Profesi” (mungkin perlu mata kuliah Etika Profesi dalam Jurusan Teknik Informatika). Apabila jauh-jauh hari sebelumnya dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi digunakan/diajarkan FLOSS (Free/Libre Open Source Software) maka tren tersebut akan dengan cepat menyebar di masyarakat. Sehingga masyarakat sekarang tidak begitu “menderita” ketika bom waktu itu meledak. Tidak masalah mengajarkan pemakaian software komersil di perguruan tinggi, tetapi hal itu harus diimbangi pula dengan memberikan solusi alternatif penggunaan software gratis dan open source.


Coba kita bayangkan, berapa banyak rupiah yang telah tersedot untuk membayar ketergantungan ini. Vendor besar aplikasi komersil seperti “pengedar narkotika” yang kini tengah naik daun, menikmati hasilnya lewat kecanduan para pecandunya. Ada baiknya saat ini kita mulai belajar melepas ketergantungan tersebut dan memberi “pencerahan” ke masyarakat agar cepat bangkit dari musibah bom waktu. Jadilah provokator FLOSS yang pro-aktif mengkampanyekan penggunaan aplikasi FLOSS sebagai sebuah kebutuhan (tidak sekedar alternatif) di masyarakat, agar kondisi ekonomi negara ini tidak menjadi semakin parah. Apakah kita hanya akan berdiam diri dengan keadaan ini???

We are in Open Source..

Konsep open source tidaklah hanya sebatas daun kelor. Open source tidaklah sebatas Linux atau lebih sempit lagi sebatas distro Linux tertentu. Open source mencakup sesuatu hal yang luas. SUatu konsep dimana kebebasan yang bertanggung jawab dipertanggungjawabkan.Sebelum saya lebih jauh kedalamnya mari kita lihat lebih jauh mengenai konsep licensing software. Secara umum saya yakin rekan-rekan sudah tahu apa yang dimaksud dengan konsep lisensi. Terdapat beberapa konsep lisensi yang ditawarkan pada dunia virtual perangkat lunak.

Commercial Software. Piranti lunak ini dibeli kemudian semua hak yang tercantum pada EULA menjadi milik anda termasuk didalamnya menyalin untuk Backup, menggunakannya untuk sesuatu yang komersial, dukungan 24x365 jam dan sebagainya. Jenis piranti lunak ini tentunya memberi dampak positif dan negatif bagi perkembangan suatu negara. Jepang dan AUstralia adalah contohnya mereka memiliki aturan yang ketat tentang penggunaan Software alhasil pendapatan pajak mereka dari software comercial meningkat, ISV juga dapat bersaing dengan sehat. Bayangkan keadaannya di Indonesia rekan saya mempunyai sebuah piranti lunak yang bagus ia jual dengan harga yang menurut saya wajar, tetapi apa yang dia alami. Produknya ia dapatkan di Mangga dua dengan harga hanya 20 ribu rupiah. Dia cuman bisa bengong apa artinya dia tidak tidur bermalam malam untuk mencari nafkah yang halal. Kalau akhirnya dibajak pula. Bagaimana bila hal ini terjadi pada rekan sekalian. ISV banyak yang gulung tikar, banyak pula yang obral janji dengan tingkat pengembangan cepat memiliki komponen canggih (namun bajakan). Carut-marut bajakan mungkin menjadi fenomena sehari hari bagaimana tidak secara tidak langsung kita dimanjakan dengan produk non original, yang saya pribadi merasakan terkadang bajakan menurunkan kreatifitas.Sementara dampak negatif software comercial adalah hadirnya ISV-ISV penguasa yang memiliki produk bagus yang ujung-ujungnya dapat memonopoli pertumbuhan suatu negara, bukankah itu yang rekan sekalian takutkan?

Freeware Software. Konsep Freeware berasumsi bahwa begitu software ditangan anda, anda memiliki hak yang tercatat dalam konsep lisensi yang telah disepakati yang pada umumnya anda boleh menggunakannya secara gratis baik untuk komersial dan non komersial. Dengan . Konsep ini banyak digunakan berbagai individu/ ISV untuk "show off", atau bisa pula menjadi media marketing perusahaan piranti lunak ehm..sebagai contoh sebuah perusahaan A akan memiliki produk gratis ALite kemungkinan besar ia juga memiliki produk yang lebih canggih dengan versi komersial. Dan menurut saya hal ini adalah sesuatu yang wajar karena itu semua haknya. Dan Bpk. Stallman adalah suatu evangelish Free Software yang saya kagumi dalam hal ini..karena sedikit banyak kita memiliki kemerdakaan untuk melakukan aksi tertentu

Shared Source Software, berasumsi sama seperti dengan Freeware software plus source codenya dapat anda lihat, anda kembangkan anda modifikasi sebatas kebutuhan belajar, riset dan non komersial. Konsep ini terkadang menjadi sebuah jawaban atas pentingnya HAKI anda PLUS dengan kebebasan penggunaan software. Contoh software berbasis ini adalah Microsoft SSCLI, SUn Java 2 v5 (telah dirumuskan mekanisme yang jelas dalam JCP, banyak yang mengasumsikan Java itu open source padahal dia masih dalam genggaman SUN, diharapkan akan menjadi open source pada versi 6.0 . Ini mungkin menjadi alasan mengapa Banyak produk SUN yang dijadikan gratis seperti Java Creator, Solaris, dsb sebuah pola marketing yang cukup baik menurut penulis..terutama persaingan yang jelas atas implementasi Java dengan sang raksasa IBM)

Open Source, anda dapat menggunakannya untuk komersial dan non komersial, mengembangkannya untuk kebutuhan komersial dan non komersial, dan mendistribusikannya. Namun demikian kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan yang bertanggung jawab, terdapat Batasan lain yang harus dipatuhi dan tercatat di lisensi yang telah disepakati umumnya GPL. Penulis yakin Open Source akan memberi dampak yang besar bagi perkembangan software dan pengetahuan tentang software terutama dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan sisi lain kehidupan ICT kita.Rekan saya berkata benar dan saya dukung pula dia, dia berkata begini "Rid bayangkan kalau software XXX di openkan..pasti bisa berkembang dengan pesat.."(yup that is correct) Namun yang patut diperhatikan akhir-akhir ini adalah open source saat ini didukung konsep services yang seringkali disodorkan oleh Vendor besar seperti Novell, dsb. Alhasil dia tidak menjadi Free pula dari sisi charge untuk dukungan dan kenyamanan. an mulai hadir pula solusi Software Open Source komersial dengan tambahan fitur layanan plus dukungan vendor besar, bila mereka mencharge anda sesuatu yang wajar bukan. Saya pernah mendengar dari rekan saya bahwa dengan menggunakan solusi open source dapat dikatakan tidak ada biaya yang bisa diestimasikan. Benarkah demikian bagaimana dengan anda?

Bagaimana open source yang gratis. Well this is FLOS, and this is about our blog what we can share about free and open source software hope you can enjoy it :)

Kini saatnya kita merenung bahwa apapun itu ada manfaatnya ada pula ruginya, mari kita bersama sama menjadi seseorang yang TIDAK ektrimis, janganlah kita mengolok-olok dan mengkotak-kotakkan dimana kita berada. Anda tentunya boleh memilih karena ada kebebasan tetapi hargailah perbedaan. This is your virtual environment Guys..respect another and be wise and hope this is DOS purposes